|
Perjalanan waktu yang teramat panjang tak selamanya mengikis masa lalu. Kalau saja sepotong roti bantat, macam ganjel rel bisa bercerita, sangat panjang durasinya. Kebertahanannya selama tiga zaman tak mengurangi kepopuleran olahan yang terbuat dari gaplek tersebut.
Bahkan konon di Belanda, roti tersebut sangat populer sebagai makanan yang dihidangkan menjelang perayaan Natal. Sedikit berbeda, wijen yang dipilih sebagai taburan digantikan dengan merica. Selain dihidangkan, roti tersebut juga dibagi-bagikan.
”Karena teksturnya keras itulah makanya disebut ganjel rel,” kata David Hoo, penerus pengelola toko roti Hoo saat di temui di sela-sela perayaan HUT Ke-16 Hotel Ciputra Semarang sekaligus Pembukaan Pameran Seni dan Budaya 'The 5”Java Heritage di lobby HCS.
Pengembangan inovasi terus dilakukan agar roti berwarna kecoklatan dengan taburan wijen di atasnya itu tetap diterima masyarakat, terutama generasi muda. Salah satunya adalah dengan membuatnya dalam tekstur yang lebih lembut. ”Roti dengan tekstur lembut ini banyak diminati anak muda. Sementara yang generasi tua lebih suka tekstur keras,” jelasnya.
Roti tersebut ternyata masih digemari masyarakat Semarang. Tak hanya itu, sejumlah tamu ekspatriat juga terlihat lahap menyantap makanan tersebut.
Pada perayaan ulang tahun tersebut, dihadirkan pula wayang slomot karya mahasiswa Universitas Diponegoro, Bagus Aditya Kuncara. Director of Sales HCS Christoporus Yulianto mengungkapkan, berkat kerja kerasnya selama, pihaknya berhasil mendapat penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional. ”Belum lama ini, HCS berhasil menerima penghargaan atas pengakuan sebagai Indonesia Leading City Hotel di Semarang 2011/2012 dari panitia Indonesia and Travel Tourism Award. HCS juga berhasil memenangkan piala emas dalam kategori Entrepreneurship 2011 dari seluruh properti PT Ciputra Grup,” katanya. (*/Suara Merdeka) |